Follow Us @ilmamubarok

08 Agustus, 2019

INGAT CINTA ORANGTUA

Kamis, Agustus 08, 2019 0 Comments


Tema orangtua merupakan salah satu tema yang paling sering dibahas. Namun, pembahasan mengenai orangtua, memang selayaknya terus dibahas agar kita sebagai anak selalu mengingat, menghargai dan menghormati orangtua kita.
Kalian pasti mengetahui bahwa sebesar apapun yang kita berikan kepada orang tua kita, tidak akan pernah cukupuntuk menggatikan apapun yang telah mereka berikan pada kita. Khususnya, ibu yang telah berjuang mengandung, melahirkan dan mendidik kita dari kecil.
Suat hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambal thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudh membalas kebaikan ibuku?”
Ibnu Umar menjawab, “Belum meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al Kabair karya adz-Dzahabi).
Kisah si atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan membalas jasa orangtuanya, kecuali ia menemukan orangtuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR. Muslim). Dalam Hadits lain, “Berbut baik kepada orangtua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah dan berjihad di jalan Allah.” (HR.Thabrani).
Jikapun orangtua kita telah meninggal dunia, kita masih mempunyai kewajiban untuk merdeka, seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi SAW:
“Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orangtua setelah keduanya wfat?” sabda Nabi SAW, “Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Maka dari itu ya akhwatii, marilah kita tetap berbuat baik terhadap kedua orangtua kita. Jangan pernah melakukan hal buruk dan memikirkan hal buruk kepada mereka apapun keadaannya. Karena, kita tidak pernah tahu kapan perkataan kita maupun perlakuan kita melalui hati mereka.

JADILAH SITI MASYITOH DIZAMANMU

Kamis, Agustus 08, 2019 0 Comments


Apakah kalian masih ingat dengan nama di atas? Tidak asing dalam pendengaran tentang nama Siti Masyitoh, seorang wanita mulia yang sangat teguh keimanannya dalam menghadapi cobaan yang sangat besar dari Fir’aun. Ia wanita yang mempertahankan imannya dan mengorbankan hidupnya serta keluarganya. Tidak terguncang oleh godaan dan ancaman manusia. Sebelum kita menkaji lebih dalam tentang hikmah yang terkandung dalam kisah Siti Masyitoh ini, maka mari kita simak cerita singkat berikut.
“Apa! Di dalam kerajaanku sendiri ada pengikut Musa?” teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astaghfirullah. Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini di sembunyikannya. “Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, menteriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada yang memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Siti Masyitoh  itu,” umpat Fir’aun. ”Panggil Masyitoh kemari,” perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh dating menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuilpun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah yakin  senantiasa menyertinya. “Masyitoh, apakah benar telah memeluk agama  yang dibawa  Musa?”. Tanya Fir’aun pada Siti Masyitoh dengan amarah yan semakin meledak. “benar,” jawab Siti Masyitoh mantap. “kamu tahu akbiatya? Kamu sekeluarga saya akan bunuh,“ bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh. “Saya memutuskan untuk agama Allah,” maka saya telah siap pula menangung segala akibatnya, “Masyitoh, apa yang kamu sudah gila! Kamu tidak saying dengan nyawamu suamimu dan anak-anakmu?” ia memilih lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.
Melihat sikap Siti Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memrintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Siti Masyitoh kepadanya. “Siapkan belanga besar, isi dengan air dan masak hingga mendidih!” perintah Fir’aun lagi. Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah berkumpul, fir’aun memulai pengadilannya. “Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan aku rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak saying dengan nyawamu, paling tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya?” mendengar kalimat itu Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suami dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “yakinlah Masyitoh, Allah pastinya menyertaimu.” Sisi batinnya yang lain mengucap.
Ketika itu, terjadilah sesuatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya. Allah pun membuktikan janjyi-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu. Demikianlah kisah seorang wanita shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memgang keimanannya walaupun dihadapkan pada bahaya yang akan merenggot nyawanya dan keluarganya.
Maka jelas akhwati… Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya selagi hamba itu tidak meninggalkan Agama Allah. Janji Allah yang diberikan akan selalu terpenuhi, hanya saja Allah memberi waktu yang berbeda akan selalu terpenuhi, hanya saja Allah memberi waktu yang berbeda untuk menguji keimannan hamba-Nya, bisa saja Allah menepati janji-Nya dimasa ia hidup atau sebaliknya dimasa ia mati. Maka kita sebagai seorang hamba hendaknya memegang teguh keimanan sampai akhir hayat.
Karena tidak lain dan tidak bukan, dunia ini adalah cobaan yang akan berakhir pada masanya, dan kita sebagai muslimah dan mu’minah harus cerdas dalam menyikapi hal-hal mencakup segala aspek, baik itu aspek duniawi maupun ukhrowi, jangan sampai kita terjerumus ke dalam aspek duniawi dan meninggalkan aspek lainnya. Janji Allah adalah benar dan ridho. Allah hanya bersama orang-orang yang berserah diri kepada-Nya, hal ini dikuatkan dengan ayat Al-Qur’an surat Lukman ayat 22:
Artinya: “dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan.”

09 Juli, 2019

BERSYUKUR

Selasa, Juli 09, 2019 0 Comments



لَئِنْ شَكَرْتٌمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
~Q.S Ibrahim: 7~

Tanpa kita sadari betapa banyak nikmat yang kita rasakan didalam hidup kita. Tidak mungkin kitak dapat menghitung selllllluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya. Sudah jelas terlihat, setiap detik tidak lepas dari nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita semua, baik berupa hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indra serta udara yang kita hirup. Apakah kita sudah merenungkan semua nikmat pemberian dari Allah tersebut?
Cobalah perhatikan lingkungan disekitar kita betapa nikmatnya kita bisa merasakan setiap proses menuntut ilmu didalam Miliu Pendidikan Pesantren. Segala dinamika kegiatanyang berjalan harus bernilai pendidikan dan bernuansa islami, karena kita adalah Mahasantri yang memiliki jiwa yang lebih besar dari pada seorang santri.
Banyak yang salah dalam menyikapi nikmat yang Allah berikan. Melupakan perannya sebagai hamba yang diberikan nikmat. Na’udzubillahi
                Bagaimana seharusnya kita menyikapi nikmat tersebut? Tentunya dengan cara bersyukur kepada Allah SWT. Ada 2 tingkatan manusia dalam mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah :
1.      عَابِدُالنِعَمِ
Mensyukuri segala nikmat dengan cara menggunakan nikmat tersebut dengan baik. Inilah yang disebut dengan hambanya nikmat.
2.      عَابِدُالمَنْعِمِ
Tingkatan ini tidak hanya dekesar menikmati, tetapi bersyukur dan mengingat bahwa Allah yang menyayangi, mengasihi hamba-Nya dengan memberikan nikmat kepada kita. Tidak hanya nikmatnya yang diingat, tetapi yang diingat yang memberi nikmat.
Bersyukur memang sebuah tingkatan yang sangat tinggi disisi Allah SWT. Allah menyukai orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Mudah-mudahan kita semua selalu diberi-Nya kemudahan untuk bersyukur kepada Allah SWT dan dicatat sebagai hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Semoga pula kelak di akhirat kita semua akan dikumpulkan dengan para syakiriin. Amiin ya rabbal ‘alamiin.

02 Juli, 2019

MENATA NIAT DAN HATI UNTUK IKHLAS

Selasa, Juli 02, 2019 0 Comments


Mungkin sebagian dari kita pernah beragumen seperti ini :
“males banget nolongin dia, dulu aja dia gam au nolongin.”
“aku ikhlas ko ga berharap apa-apa. Lakuin aja semuanya.”
“ Hm,, dia tuh masih saja ya pacaran. mending aku yang udah hijrah.”
Niat adalah hal dasar, pondasi dan “teman” yang mengiringi segala hal yang kita lakukan. Tidak hanya “teman” di awal tapi juga di tengah dan di akhir bahkan setelah hal itu selesai kita lakukan. Pada awalnya, niat kita mungkin ikhlas, di tengah jalan tiba-tiba setan membisikan secara halus. “Tuh liat tuh orang-orang pada seneng sama postingan kamu” dan bisa jadi kamupun terbawa dengan bisikan itu ”iya ya, biar pada kagum orang-orang sama aku”.  Astaghfirullahal Adziim… halus sekali ya bisikannya, membuaikan dan memusnahkan.
Memusnahkan segala amal yang telah dilakukan susah payah. Butuh banyak waktu dan effort melakukannya. Namun semuanya NOL alias tanpa arti dimata Allah hanya karena mengejar pujian manusia yang hanya diujung lidahnya. Artinya kita sudah riya, lalu kalah dan setan tertawa. Agar tidak riya, selalu upayakan Tajdidun Niat alias perbaharui niat. Niatkan ikhlas dalam segala hal yang kita lakukan. Ikhlas adalah berharap pada Allah baik berupa ridho, apresiasi, balasan, ampunana, hadiah dan sebagainya.
Dengan begitu, yuk mulai sekarang kita terus tata niat, seperti menata rumah begitu juga menata hati. Kadang berdebu, kotor atau berantakan, maka ia perlu terus di bersihkan dan ditata kembali. Semoga kita menjadi orang mukhlis, selalu belajar ikhlas berharap minta kepada Allah. Dan jangan tanggung-tanggung jika meminta kepada Allah. Karena Allah lah yang memiliki segala-Nya, Maha pengampun, penyayang dan penguasa jagat raya.

21 Oktober, 2018

Its Me

Minggu, Oktober 21, 2018 0 Comments

Halo gengs! Namaku Ilma Nafi’a Mubarok. Nama panggilku bermacam-macam dari masa balita sampai dewasa saat ini wkw. Dulu masa smp aku dipanggil mail, goil, sekarang ilmun, taqoil, dan masih ada lagi. Entahlah darimana mereka dapat nama-nama itu semua. Its okay, tak masalah asal mereka bahagia aja. Tapi aku seneng dengan panggilan itu semua . 

Oke, lanjut. 1 minggu yang lalu usiaku tepat 20 tahun, 13 oktrober 2018. Aku senang dengan bertambahnya umur, ucapan selamat, do’a dan kado tapi aku sedih karena sisa umurku berkurang L aku berharap disisa umurku yang sedikit ini dapat membawa kemanfaatan dan keberkahan untuk banyak orang, sesuai nama yang telah orang tuaku beri  “Ilma Nafi’a Mubarok” : ilmu yang bermanfaat serta barokah, AAmiin.

Aku anak sulung dari 3 bersaudara. Adikku 1 perempuan dan 1 laki, jarak kami yang begitu jauh membuat kami jarang bertemu. Adikku yang perempuan namanya Fatih, (Fatih Fadlilah) dia masih SD kelas 5, dia bercita-cita masuk pesantren sepertiku dulu. Dan adikku yang laki, namanya zakki, aku lebih suka panggilnya Zack hehe. (Moh. Zakki Mubarok) dia baru lahir bulan juli kemarin. Membuatku sedih karena baru 2 bulan, aku udah masuk kampus lagi L. Tentang Zack, bakal aku bahas di sub bab blog aku ini nanti. Insyaa Allah.. Tunggu yups !

Oiya aku masih duduk di bangku mahasiswi  aktif  plus nyantri. Sebut aja Mahasantri, karena 24 jam hidup berasrama dan kegiatannya  yang super full seperti santri. Tapi jangan bayangkan santri yang benar-benar mondok ya, bedanya kalau Mahasantri  sambal kuliah aja gitu.

okeh. Itu aja kali ya introduction nya, aku pegel  :D    

06 Agustus, 2018

CARA MENGHILANGKAN KEMALASAN

Senin, Agustus 06, 2018 0 Comments


Ya,, akhwatiii, didalam diri kita tentu terdapat rasa malas, namun secara tidak sadar kita memeliharanya sehingga semakin  besar dan semakin kuat. Jika kita malas, mengatasi rasa malas maka kita akan malas selamanya. Malas kita akan semakin kuat, tindakan kita akan  sedikit.

Kalau dipelihara dengan baik, si malas akan semakin membesar, persis seperti memelihara pohon yang terus kita pupuk dan binatang yang kita beri makan. Masalahnya setelah besar, si malas akan mencelakakan kita.

Rasa malas akan tumbuh pada diri kita apabila kita memberi makan pada rasa malas dengan tidak melakukan apa-apa, menunda-nunda pekerjaan, mencari aktivitas lain yang lebih nyaman, melamun dan menghayal, membatalkan tindakan yang seharusnya dilakukan, tidak mau belajar dan cepat menyerah.
Just Do It !

            Jangan memberi makan si malas, caranya adalah just do it. Lakukan saja, saat kita sadar harus melakukan sesuatu. Maka lakukan saja. Saat kita menginginkan sesuatu, maka mulailah untuk meraihnya. Saat kita punya rencana, maka mulailah menekekusinya.
Lima Detik Pertama Yang Menentukan

            Saat kita melakukan sesuatu, keputusan apakah yang akan terjadi atau tidak itu ada dibawah 5 detik. Untuk itu, sebelum si emosi negative menguasai kita, maka langsunglah bertindak. Saat kita bangun shubuh, sebelum si malas (di dukung si syaithon) akan menyuruh kita untuk tetap berbaring malah menarik selimut. Kita harus segera bangkit.

Berdo’alah Karena Malas Itu Bisa Datang Dari Syaithon
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berdo’a ;
اللهم إنّي أعوذ بك من العجزوالكسل والجبن والحرم و أعوذ بك من الفتنة المحيا والممات و أعوذ بك من عذاب القبر (رواه البخارى)
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur” (HR. Bukhori)

22 Maret, 2018

PINTAR MERASA BUKAN MERASA PINTAR

Kamis, Maret 22, 2018 0 Comments



Kepintaran merupakan salah satu tujuan manusia. Sebab, dengan kepintaran inilah jembatan kesuksesan membentang, menghubungkan seseorang dengan apa yang ingin dicapainya. Allah SWT berfirman “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberikan ilmu pengetahuan  beberapa derajat” (Al-Mujadalah: 11)
Dari ayat diatas kita tahu, bahwa Allah meninggikan derajat kaum berilmu. Derajat ini bisa berarti derajat keagamaan maupun dari sisi sosial. Orang yang berilmu jelas akan memiliki pekerjaan yang berbeda dengan orang yang tidak berilmu dan hanya mengandalkan otot saja. Dengan ilmu yang dimiliki, seseorang dapat memberikan manfaat yang ada pada dirinya kepada orang lain yang membutuhkannya.
Tetapi disisi lain, terkadang seseorang lalai dengan derajat yang diberikan Allah SWT. Derajat inilah yang membuat seseorang membanggakan diri dan bahkan berlaku sombong. Pada akhirnya, sikap semacam itu akan menjadikan seseorang merasa pintar daripada yang lain. Dialah yang paling cerdas yang paling mengetahui daripada yang lain. Padahal masih ada langit diatas, masih ada yang lebih pintar daripada yang pintar. Mungkin dia pintar di satu wilayah, belum tentu di wilayah lainnya.
Demikian dengan orang yang pintar tapi merasa paling pintar, dan kepintarannya hanya akan digunakan untuk membodohi orang lain. Ia meremehkan dan merendahkan orang lain. Sikapnya yang seperti itu dapat menjerumuskan orang tersebut kedalam kesombongan. Ilmu yang ia miliki bukan semakin mendekatkan kepada Allah SWT, bahkan ia semakin jauh dan tidak istiqomah.
Dapat kita pahami, bahwa banyak orang pintar tetapi tidak mendapat hidayah dari Allah SWT. Sehingga ia tidak bisa memanfaatkan ilmunya untuk masyarakat dengan baik. Jika seseorang yang berilmu itu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT maka sudah seharusnya juga banyak beramal dari ilmunya itu. Sebab, setiap tindakannya akan disadari pada ilmu yang dimiliki.
Kita bisa melihat bagaimana mahasiswi yang membuat onar, orang-orang yang berkuasa yang berbuat dzolim. Mereka semua adalah orang-orang yang telah memiliki dan menguasai ilmu. Tetapi ilmu itu menjadi cobaan bahkan menjadi bencana bagi mereka. Seharusnya, seseorang yang memiliki kapasitas intelektual tertentu merasa pintar, merasa apa saja. Baik itu untuk membuat keadilan, merasakan penderitaan orang lain, merasakan konflik-konflik yang merekah, sehingga diharapkan mereka memberikan sumbangsih pemikiran demi terselesaikan setiap konflik. Bukan kemudian berbalik merasa pintar dan ,menciptakan konflik-konflik yang berujung pada perpecahan umat.

02 Maret, 2018

MAHASANTRI

Jumat, Maret 02, 2018 0 Comments


Foto bersama dengan jajaran Rektor dan dosen UNIDA Gontor

Tak asing dengan kata “Mahasantri” bukan? Ya, Mahasiswa Plus Santri. Mahasantri adalah berasal dari kata MAHA yang artinya segalanya, besar atau agung. Nah kata santri  mempunyai arti seseorang yang mendalami ilmu agama disuatu lembaga  pondok pesantren. Jadi arti kata mahasantri sendiri adalah seseorang yang mendalami ilmu agama di suatu lembaga pondok pesantren yang bernotaben dari mahasiswa. Kegiatannya pun tidak  jauh berbeda dengan santri santriwati biasanya, jam 4 pagi sudah siap-siap bangun untuk menunaikan ibadah shalat shubuh dan magrib, hal ini wajib bagi setiap mahasantri mengikutinya kalaupun ada yang tidak mengikuti jamaah akan ada sanksi tersendiri, setelah shalat jamaah dilanjutkan dengan shollu apa itu shollu ?

Shollu merupakan singakatan dari shobahul lughoh dimana para maahsantri belaja berbahasa inggris dan arab yang baik yang diajaran oleh para musyrif-musyrifah.Selesai dengan kegiatan itu para mahasantri belajar ta'lim afkar danal qur'an dan sesudah kegiatan itu  pukul 07.30 WIB. Setelah itu para mahasantri bisa melanjutkan kewajiban  sebagai mahasiswa. Disela-sela kuliah reguler mahasiswa bisa tashih Al-quran nah ininih syarat buat mahasantri agar bisa mengikuti ujian tengah semester maupun ujian akhir, para mahasantri dituntut untuk aktif dalam mengikuti kegiatan tersebut. Mungkin bagi yang baru dengar dengan sebutan Mahasantri ini pasti terbayangnya super sibuk. Memang sih, tapi jangan salah sibuknya mahasantri itu nyambil belajar dan mendalami ilmu agama. Mengapa harus belajar ilmu agama?

Inilah ulasan kenapa harus belajar ilmu agama:
Yang pertama Karena orang yang mempelajari ilmu agama itu yang paling takut kepada Allah Ta’ala. Kalau dia takut kepada Allah, tentu ia tidak akan menjadi koruptor dan melakukan kejahatan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama“(Q.S. Fathir: 28)
Kedua, dalam mendalami ilmu agama, adalah jalan menuju surga. “Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga dengan amalannya ini” (HR. Muslim)
Ketiga, menjadi baik dengan hanya dengan ilmu agama. Tanpa ilmu agama, mahasiswa tidak akan baik, profesor tidak akan menjadi baik, Contohnya saja orang yang paham agama tahu bahwa mengambil harta dengan cara yang tidak baik itu dilarang. Demikian karena Nabi shalallahu a’laihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Allah pahamkan baginya agamanya” (HR. Muslim).

Walau belajar agama itu penting, jangan berhenti kuliah!
Mengapa?
1.    Jihad saja butuh ridha orang tua, apalagi perkara menuntut ilmu ini.
2.    Jangan buat menangis orang tua.
3.    Ridha orang tua yang didahulukan, belajar agama tidak hanya di pondok.
4.    Ingat doa orang tua mustajab, khususnya Ibu.
Jangan lupakan keikhlasan dalam belajar
Karena apa saja yang ikhlas pasti amalannya jadi langgeng. Ingatlah kata Imam Malik, “Maa kaana lillahi yabqo (apa saja yang dilakukan ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng).” Perkataan tersebut muncul saat beliau ingin menulis kitab yang begitu masyhur yaitu Al-Muwatha‘.
Lalu bagaimana disebut ikhlas dalam belajar?
1. Belajar untuk memperbaiki diri.
2. Belajar untuk memberi manfaat kepada orang lain.
3. Belajar untuk mencari ilmu, biar ilmu Islam ini tetap ada.
4. Belajar untuk mengamalkan ilmu.

Nah itulah beberapa ulasan mengapa harus belajar ilmu agama, semoga bermanfaat J



24 Februari, 2018

BEKAL UTAMA DALAM MENUNTUT ILMU

Sabtu, Februari 24, 2018 0 Comments
            Jum’at, 16 Februari 2018

BEKAL UTAMA DALAM MENUNTUT ILMU

Pada dasarnya, dalam kehidupan kita sangat membutuhkan yang namanya “ILMU”. Apa jadinya jika kita hidup tanpa ilmu? Ibarat benjana kosong yang tak berisi apa-apa. Kebutuhan manusia akan ilmu menjadikan manusia terus bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu yang yang mereka alami. Seiring berkembangnya pemikiran manusia, lahirnya berbagai macam ide-ide, gagasan manusia maka berbagai macam ilmu pun lahir. Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan zaman.
Ilmu merupakan petunjuk, pedoman, pengetahuan dan sesuatu yang tergollong suci, ilmu bagaikan pelita atau cahaya dimalam yang gelap, seseorang tidak dapat berjalan dngan baik di malam yang gelap tanpa adanya cahaya. Demikian pada halnya seseorang tak dapat membedakan antara benar dan salah, kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu, terlihatlah seseorang. Baik buruknya, rupa dan tampaknya. Karena terdapatlah perbedaan antara orang yang menuntut ilmu dan orang yang tidak berilmu, imam Syafi’Iberkata :
“tidak mungkin menuntut ilmu orang yang mudah bosan dan meraa puas jiwanya. Lantas ia berhasil meraih keberuntungan. Akan tetapi seseorang yang menuntut ilmu adalah dengan : kerendahan jiwa, kesempitan hidup dan kerkhidmat untuk ilmu maka dialah yang akan beruntung.”
Hari demi berlalu, keadaan silih berganti dari satu ke lainnya. Bagaimana kabar akan ilmu kita? Bagaimana kabar akan ujian kita? Sudahkah kita merasa puas dengannya? Dengan terlewatinya satu ujian bisakah kita merasa tenang. Dengan adaya ujian, kita dapat mengetahui kadar dan tingkat sampaimanakah ilmu yang sudah kita dapatkan?
Jika kita merasa belum puas dengan ujian ini, itu menandakan bahwa yang kita dapatkan hanya sebagiannya saja dan jika sudah merasa puas pun menandakan bahwa ilmu yang kita dapatkan hanya sedikit saja. Dengan kata lain, sebagai penuntut ilmu janganlah bosan untuk terus mendapatkan ilmu. Karen atidaklah sia-sia dalam menuntut ilmu. Karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai dan pemilik ilmu tidak sama dengan orang yang bodoh. Firman Allah mengatakan :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Q.S Al-Mujadalah: 11)
Ya akhwatiii….
Dengan adanya ilmu kita dapat terbanggakan akan tetapi dengan adanya ilmu pula kita dapat terbelangkangan. Oleh karena itu, ilmu juga harus didampingi dengan akhlak yang baik. Akan tetapi bagaimana keadaan akhlak kita hari ini? Masihkah kita mengeluh? Masih adakah sifat sombong atas diri kita?
Akhlak merupakan bagian terpenting dalam islam, karena akhlak dapat berperan sebagai barometer (tolak ukur) akan kesempurnaan iman kita. Dengan kata lain kita dapat melihat iman seseorang dengan akhlak dan muamalahnya kepada orang lain. Menuntut ilmu merupaka ibadah, Tholabul I’lmi lil i’badah, tidak hanya untu ibadah saja, akan tetapi, ibadah akhirat juga.

Marilah mengintropeksi diri kita masing-masing. Dengan begitu, aakat terdapat perubahan, yaitu untuk menjadi lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk bberubah. Marilah semua yang buruk-buruk menjadi baik dan lebih baik.